Kamis, 22 Juni 2017

MENGAKHIRI KESEDIHAN


Entah mengapa malam ini aku merasa sedih.
Entah mengapa malam ini aku diingatkan akan seorang laki-laki yang pernah menjadi temanku.
Aku tak bisa melupakan segala kenangan dengannya.

Terutama pada saat itu,meski berteman bersamanya hanya dalam dua jam saja sudah membuatku merasa mempunyai teman dalam segala hal,sebenarnya berteman dengannya sudah lama,namun ini bisa ku katakan berteman yang sebenarnya. Namun,kenyataan tak seperti yang diharapkan,dan teman laki-laku ku ini menyukai teman perempuanku sehingga mereka bisa begitu dekat,mungkin sampai sekarang.
Sudah hampir dua tahun ku melupakan dirinya. Namun,jika rindu datang apa yang harus kuperbuat? Hanya tangisan air mata lah yang menuangkan semua rasa saat bibir tak mampu berkata.
Hembusan angin membelai kepedihanku.
Dinginnya malam menemani tangisku.
Dan mentari lah  yang menghapus air mataku.
Saat ku melihatnya,tak mampu lagi rasanya untuk tersenyum,melihatnya saja sudah tak mampu. Malu rasanya jika harus menangis dihadapannya dengan tanpa alasan. Ku tegarkan hatiku untuk lewat didepannya.

Masih ku ingat saat dia sedang mengajakku jalan malam,meski hanya di tepi pantai melihat riuhnya ombak yang datang menghampiri  pasir dengan kehangatan malam.
Harapku terlalu besar kepadanya sedang ia tidak mengharapkan dariku melainkan dari temanku. Dan mulai saat itu,
Aku belajar menjadi perempuan tangguh,
Perempuan yang berharap hanya pada kepastian,
Perempuan yang tahu diri,
Perempuan yang selalu bersyukur atas segala hal yang pahit,dan
Perempuan yang selalu berhati-hati dalam segala hal,terutama cinta dan pertemanan.

Aku sadar jika aku bukan siapa-siapa dalam hidupnya.
Aku hanyalah seorang perempuan yang selalu menyebut namanya dalam setiap doaku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Dan aku tidak patut membencinya dan teman perempuanku itu. Malah seharusnya dia yang patut membenciku karena aku sudah mengharapkan apa yang ia tidak harapkan.

Jujur saja aku tak bisa melupakannya sampai detik ini.
Mungkin ia sekarang membenciku,
Ia tidak suka terhadap sikapku,
Ia tidak suka dengan harapanku,
Dan menurutku aku patut mendapatkan hal itu.

Dan sekarang ia telah mempunyai pasangan yang mungkin menurutnya ialah perjalanan cinta yang sebenarnya. Dan aku turut bahagia karena akhirnya ia mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan.
Senyumnya menghiasi beranda instagramku,
Seolah berkata "Melangkahlah".
Dan aku pun memutuskan untuk melangkah meski sedih tetap melandaku,namun oleh senyumnya lah dihadang semua sedih yang datang seiring waktu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar